Best I ever Read : The- Announcer by Ibnu Novel Hafidz


Judul : The Announcer
Penulis : Ibnu Novel Hafidz
Penerbit : Navila
Cetakan : Pertama 2010
Tebal : x + 298 Halaman

I finally Found!!! *teriak gak santai* ehm, udah lama sih sebenarnya gue menemukan novel ini.

But I still love it. Semenjak dulu sebenernya gue agak curious sama dunia penyiaran, dan pengen banget banyak tau terutama gimana kalau seorang penyiar bertutur tentang kehidupannya sebagai penyiar, terutama penyiar malam. Kayaknya seru dan banyak aja yang bisa diceritain. Gimana seorang penyiar malam tetep harus siaran ketika banyak orang sebenernya tidur dan mengistirahatkan diri. Gimana seorang penyiar malam harus tetap jaga kondisi dan nahan suaranya supaya tetap siaran dengan santai setiap malam. Penasaran ga sih? Engga ya mungkin.. emang gue aja yang terlalu kepo berarti :hammer:

So far, gue belom menemukan naskah yang mengangkat cerita penyiaran yang bener-bener ngangkat kisah seorang penyiar dalam dunia siarannya, mungkin gue aja yang belom nemu. Yang paling mendekati mungkin buku yang gue beli waktu ada bazaar buku, lupa lengkap judulnya tapi kalo ga salah 104,6 Radio biru or something like that. Cerita tentang penyiar ngebawa beberapa kali penyiarannyanya but mostly naskah itu juga ngangkat kehidupan penyiar di luar dunia siarannya walau masih nyangkut waktu kerjanya dan itu sedikit banget.

And now I finally found! Karangannya Ibnu Novel Hafidz, judulnya the announcer. Pertama kali ngeliat gue langsung interest sama novel ini, sekaligus takut buat ngebelinya karena gue berfikir kalau novel ini tetep akan ngangkat kisah penyiar kaya yang udah-udah. Tempelan.

Ternyata enggak. Here I copy synopsis from the book’s back cover :

Suara penyiar itu seolah memiliki daya magis yang mampu menyihir pendengarnya. Getar pita suaranya yang berat nan berwibawa telah membuat hati para wanita yang mendengarnya turut bergetar penuh gejolak. Tapi sang penyiar bergeming. Ia sadar, ada bukan untuk mengulik nafsu syahwat, namun untuk bicara tentang kebenaran dan kesejatian cinta.
The announcer berkisah tentang liku-liku kehidupan penyiar di radio. Bukan hanya di udara, tapi juga dalam kehidupan nyata. Ia berkisah tentang perjuangan Sang penyiar dalam menghadapi persaingan dengan radio lain di tengah hingar binger budaya pop yang kian materialis. Juga tentang perjuangannya untuk menjaga keutuhan cinta. Rentetan demi rentetan dalam kisah ini memberikan cermin bahwa hidup tidak hitam dan putih.
Selain bertutur dengan jujur dan lugas, novel ini sangat menyentuh dan memberikan inspirasi bagi siapa saja yang hendak meneguk kearifan hidup.

Menarik? Kalau enggak try my synopsis :

Ini adalah cerita tentang Bara, seorang lelaki cerdas, taat beragama, berbadan atletis. Figur seorang lelaki yang sangat sederhana dan sangat kebapakan sekali. Tanya dia tentang profesinya dengan bangga dia akan menjawab Penyiar. Pekerjaan yang menurut orang tidak bisa menghidupi keluarga, tapi hal itu yang selama ini dilakukan Bara. Bekerja sebagai penyiar, menguasai pasar udara di Jakarta, untuk Karina. Istrinya yang sebentar lagi melahirkan anak pertamanya.

Suatu saat dimana seharusnya Arcadia building tempat Bara siaran memancarkan suara nan merdu yang selalu dinanti para pendengar, heboh dengan permohonan izin Bara untuk tidak siaran karena harus menemani Karina melahirkan anaknya di rumah sakit. Penyiar lain bingung, Program director lebih bingung lagi. Karena menurutnya seorang Bara, irreplaceable. Bara pergi ke RS dan Program director menunjuk seseorang untuk menggantikan Bara dengan syarat : tidak menjalankan program Bara, melainkan memutar lagu dan mengabari pendengar tentang kondisi Bara.

Bara menemani Karina, istrinya yang sangat manis, dalam proses persalinannya. Anaknya akhirnya lahir. Perempuan , kembar. Persalinan selesai, Anaknya selamat dibawa menyusu ke ibunya dan Bara tetap menemani Karina sambil bercakap-cakap. Sayang tidak berapa lama setelahnya, Karina meregang nyawa. Ia terlalu lelah untuk satu proses persalinan besar ini. Namun ia berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai ibu, memberikan ASI bagi anaknya, member nama bagi kedua putrinya , memastikan ayahnya menjaga kedua putri mereka.

Setelah semua terjadi, Bara mengundurkan diri dari dunia penyiaran Jakarta. Ia pindah kerumah Ibundanya tercinta di daerah Pekalongan dan membangun suatu radio dakwah disana. Bara memang punya kecerdasan di bidang ini, hanya beberapa saat Radionya pun sukses. Namun demikian, beberapa saat setalah anaknya masuk ke bangku sekolah, Bara dikirimi surat oleh Habib Husein. Radio di Yogyakarta yang dulu dibela oleh kakeknya untuk tetap mengudara butuh bantuannya. Dilemma mulai muncul, Bara harus meninggalkan anak-anaknya, ibunya, keluarganya ,teman-temannya dan Radionya. Untuk satu pilihan Dakwah yang lebih luas , Bara mengambil pilihan itu. Ia menjatuhkan pilihan. Mengorbankan sesuatu sementara untuk hasil yang lebih baik.

Dan demikianlah Bara, Masuk sebagai Program director Radio Suara Suhada dengan semua ganjalannya. Menghadapi orang-orang yang tidak koperatif, kondisi radio yang tergolong mengenaskan. Bara harus membangun radio ini dengan keluarga barunya yang satu per satu harus kembali padaNya. Tindakan anarkis, makian pendengar, kehilangan tokoh pendukung, fitnah, client yang mencoba bermaksiat pada Bara semua harus dihadapinya, untuk menghidupi Radio ini.

Bara memang sangat cerdas dan baik, jalannya membangun radio ini kembali ke masa jayanya melawan radio lain cukup mulus dengan beberapa bantuan orang-orang yang tentunya sangat menyayangi Bara. Keluarganya, teman-temannya, bahkan Aisyah. Dokter cantik yang saat ini praktik di Yogyakarta. Aisyah adalah dokter yang membantu persalinan Karina.

Respek, pendengar, rating, sponsor semuanya akhirnya didapat Bara. Radio Suara Suhada bisa hidup lagi, bangkit menuju level kejayaan yang sama. Semua berkat… Bara dan timnya dengan segala keminiman yang harus mereka jalankan selama mengoperasikan radio ini. Termasuk cinta keduanya, Aisyah.

Sayang, disaat semua kejayaan kembali datang pada Bara, ia memutuskan untuk… memusnahkan suaranya kecuali untuk keluarganya. Karena..?

Menarik gak? Kalau enggak salahnya di gue berarti bikin synopsis nan kacau :p

Nah, apa sih hebatnya novel ini? Diluar temanya yang agak tidak familiar buat diangkat ini, kemudian timbul alur penceritaan yang tidak terbaca akan dihentikan dimanakah cerita ini. Hebatnya lagi tiap-tiap part dalam alur novel ini terasa padat dan berisi tanpa harus mengisi dengan efek suara yang gak penting, percakapan yang tidak bermakna ataupun bahasa-bahasa slank yang membuat seorang penulis keliatan Gaol gilaaaa. Kenyataannya novel ini hadir dengan suatu penggunaan bahasa yang kurang fleksible dan lumayan kaku, namun pemakaian bahasa seperti ini justru menguatkan feel kesederhanaan dan kearifan dari tokohnya. Makna dan moral yang coba disampaikan penulis lewat novel ini sangat tersampaikan dengan segala kesederhanaan yang ada pada novel ini. Ini novel yang cukup padat isinya.

Penyiar harus gaul (dalam artian hampir seperti selebritis dengan kehidupan glamournya) terbantah disini.
Penyiar pekerjaan mudah terbantah disini.

Inti dari dunia penyiaran adalah tujuan radio lo, informasi atau hiburan. itu dia, bukan seberapa keren dan gaul atau ahlinya seorang penyiar. Buktinya : Bara.

Banyak yang harus lo tau sebelum bilang dunia penyiaran itu mudah untuk dimasuki, bukan pekerjaan yang penting dan menjanjikan. Coba baca naskah ini, kalo lo masih belom bisa nemuin peranan seorang penyiar dengan pekerjaannya yang hebat, dan lo gak tersentuh dengan naskah ini gue rasa lo miss a whole part di novel ini..

atau mungkin gak punya hati? *senyum iblis*

Sebenernya kalau dibaca bener-bener novel ini tuh intinya adalah bercerita tentang kekuatan seorang penyiar, terutama pada sumberdaya suaranya. Gue pernah punya kenalan (yah bisa dibilang teman versi gue entah versi mereka *menyedihkan*) seorang penyiar dan gue pernah juga ngerasain gimana power dari suara dan kharisma seorang penyiar. Pernah gak lo sebelumnya mendapati banyak orang menangis hanya karena seorang penyiar akan resign? Atau mungkin seorang pendengar yang rela mantengin penyiar kesayangannya sampai larut malam hanya demi untuk sepatah kata 'hai'? dan Pernah gak lo nemuin kekuatan seorang penyiar yang mampu jadi motivasi bagi seseorang untuk bisa menemukan langkahnya ke depan terlebih : tujuan hidupnya?

I've found it. Gue ada rekamannya yang bisa membuktikan itu, betapa berharganya seorang penyiar dimata pendengarnya. Dan betapa berharganya malam-malam waktu siaran seorang penyiar yang cuma 3 jam. *bingung gimana ngeshare-nya ya?* Gue pernah send attachment ini ke e-mail temen gue juga.
And to be concluded : Penyiar bukan pekerjaan gampangan, bukan pekerjaan yang tidak berarti. Kalau lo bisa membongkar dan bisa lebih dekat dengan kehidupan mereka, Lo tau, penyiar is a hero for his/her listeners.

oOo

 Attachment : Adrian Martadinata Last announcing in kelas Malam Global Radio

6 comments:

maheergrant said...

kayaknya menarik... tapi bukunya jarang diekspos ya? pinjem dong lan, :p

Arland said...

publikasinya emang ga terlalu gencar mas, itu aja ga sengaja nemu di pojok rak buku waktu itu :p entar pas ke gagas dibawain deh :p

sangayah said...

hey....
resensi yang bagus
makasih ya...

salam
Ibnu Novel Hafidz

Arland said...

wah ada penulisnya *malu* Novelnya juga bagus kok mas, keren :)

Niarumi ruumee said...

I love this book. I found and borrowed this book from BPAD Jogja.. Sejak awal lihat sampul sampai akhirnya menamatkan membacanya kurang dari 6 jam.... Uwaaaaoooww.. Bagus bgt.

Niarumi ruumee said...

Keren om keren.. Sampai saya googling beneran nama nama tokoh dan radio dalam novel ini hehehe..