Forgiven - yang tak terlupakan ( I Adore You! Will )





Judul : Forgiven
Penulis : Morra Quatro
Harga : Rp36.000
ISBN : 979-780-432-1
Jumlah halaman : 266 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm
Price: Rp36.000 (harga yang berlaku di Pulau Jawa)





Ketika seseorang terlalu cerdas, maka ia akan memiliki kelemahan secara sosial.
Kelemahan dimana ia hanya perduli pada dirinya sendiri dan beberapa orang disekitarnya yang mungkin ia sayangi. Benarkah itu , Will?

Hai, Will, kenalin Gue Arlan. Lo gak tau gue , karena kita gak pernah kenalan secara langsung apalagi bertemu.

gue , siapa?

gue cuma seorang mahasiswa yang mengagumi elo will, seorang Will yang layaknya seorang einstein muda dari Indonesia yang punya mimpi yang jelas dengan nuklir rancangan lo itu. gue cuma Seorang mahasiswa yang sangat mengagumi kecerdasan lo yang begitu mencintai Fisika disaat orang lain berfikir kumparan dan atom itu gak penting. gue cuma seorang mahasiswa yang hanya bisa melihat lo dalam tumpukan lembaran diarynya Karla. Diary yang lembaran depannya dulu kutemui berwarna merah dengan tulisan besar nama gugus bintang yang kalian kagumi bersama dahulu.

Champagne Supernova.

Sekarang, gue gatau, champagne supernova ada dimana selain di dalam benak gue.Tapi gue masih bisa nemuin lo will. Dibalik kertas tebal berwarna biru yg bergambar gugusan bintang berbentuk sepasang sayap malaikat. Seperti yang kau lakukan di langit untuk Karla malam itu.

Forgiven

Membaca diary Karla, gue merasa kalau you should be forgiven.

Mungkin sama seperti yang dirasakan Karla. Saat Ia bercerita bahwa will adalah seorang teman smanya. Saat ia bercerita bahwa Will selalu tampak lebih berharga dibanding Arfan sekalipun. Saat ia bercerita bahwa ia hanya ingin segala milik lo kembali pulih. Saat ia bercerita bahwa ia sangat butuh lo. Saat ia bercerita bahwa ia begitu melupakan kesakitannya setelah melihat lo di depan pintu apartemennya di Singapura. Saat ia bercerita bahwa ia begitu sakit saat dicampakkan seseorang hanya karena orang itu lo will. Saat ia bercerita kalau ia punya troy,malaikat kecilnya yang kukira...

Sudahlah,aku jadi kesal sendiri. aku iri will,padamu. Ya , hanyalah sebuah bentuk keirian atas sesuatu yang kau punya dan aku tidak. Seseorang yang begitu dalam menyayangi dirimu atas nama sebuah cinta walaupun ia belum menyadarinya.

Itu semua tergambar jelas Will. Saat karla sibuk memperbincangkan will begini will begitu sampai rasanya malam habis hanya membicarakanmu. Saat karla bisa menulis sebanyak 200-an halaman hanya menceritakanmu. Saat karla tidak bisa memikirkan seseorang selain dirimu. Saat karla bisa berbuat apa saja karenamu. Saat karla begitu hancur Hanya karenamu. Saat Karla berani mengumbar diarynya demi mengenangmu.

Semuanya cuma karenamu. Karena seorang Will.

Maaf,karena aku lancang berani membuka bab demi bab buku harian itu.

Karla banyak sekali menulis tentangmu.

Ia menulis pada satu bagian besar pertamanya tentang persahabatan kalian, tentang bagaimana kalian menjalankan rencana busuk atas nama persahabatan , tentang satu masa dimana diskorsnya Karla yang membuatnya tidak bisa bertemu dengan kalian walau sebenarnya hanya dirimu yg ingin ditemuinya, tentang seluruh masa sma dan kekagumannya padamu sepanjang masa itu. Karla menulis semua itu,Will, dengan semua keteguhan hatinya dengan keluguan dan kelugasannya, dan dengan keindahan bahasa yg dimilikinya. Semuanya begitu keluar saat dia bercerita tentang lo.

Dan ia menulis semuanya di bagian keduanya. Bagian dimana ia banyak sekali bercerita tentang kalian will. Tentang ia yang begitu kecewa meninggalkan Indonesia hanya karena hari terakhirnya tidak bisa berpamitan denganmu. Tentang impian reaktor nuklirmu yang akhirnya tercapai. Tentang ia yang begitu gembira menemukanmu di depan pintu apartmentnya sampai tentang suatu masa disaat bibirnya bertemu dengan bibirmu...

hmm..

suatu buku harian yang menarik sekaligus menyakitkan.

aku tidak pernah sebegitunya menikmati akan sesuatu hal, sampai ketika aku diberi buku harian itu. Melihat buku yang menurut rekomendasi seorang teman sangat menarik dibanding beberapa jilid lainnya, dan kemudian dua minggu setelahnya sepulangnya aku dari salah satu station radio swasta di Jakarta, aku mendapatkannya di Jl. Montong no 57. Sempat buku itu kusimpan, karena menurutku agak lancang membacanya tanpa izin penulisnya, namun akhirnya aku membawa buku harian itu kemanapun aku pergi, sambil mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka dan membacanya lembar demi lembar.

Saat itu, aku membukanya ketika kampusku masih teramat sepi dengan kondisi dimana kelas baru akan mulai satu jam lagi. Duduk di bangku yang disediakan di dekat sekretariat kampusku dan kemudian membuka lembar pertamanya. Beberapa lembar berlalu aku tidak bisa berhenti membacanya walau saat itu jam kelas akan segera dimulai, sampai akhirnya salah seorang sahabatku di kampus menginterupsi bacaanku.

untuk selanjutnya, aku tidak lepas dari buku itu.

Kelas selesai siang hari dan aku pulang dengan bis melewati jalanan daerah jakarta selatan dalam kondisi hujan. yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana melindungi buku ini dan kemudian melanjutkan membacanya walau harus mencuri waktu di dalam bis sekalipun. Dan itu kulakukan, bahkan disaat aku harus menunggu bis umum itu datang menjemputku.

Sepanjang jalan kubaca, sampai ketika harus turun rasanya tidak rela melepas buku itu walau hanya menundanya sejenak. sampai di rumah hal pertama yang kulakukan adalah : membuka pintu dan masuk menuju kamarku untuk melanjutkan membacanya. Hanya itu? tidak, selesai membacanya aku mengulang untuk kali kedua, menuliskan penilaian di form naskahku dan kemudian melanjutkan membaca jilid lain yang kudapatkan hingga selesai. Selepas itu, mengulang membacanya lagi. Dari 25 jilid yang kudapatkan, bahkan ada beberapa jilid yang tidak habis kubaca, namun khusus untuk jilid ini aku bahkan membacanya sampai tiga kali. puas? tidak tentunya.

Maaf kalau lancang, tapi saat itu Karla yang menamakan dirinya Morra Bandoputih dengan Champagne supernova itu begitu menyita pikiranku dengan keindahan bahasanya. Ya, semua itu isinya lo Will .

Dan dari situ gue mengagumi lo. Will seorang scientist muda dan ambisius yang sebenarnya merupakan cerminan pemuda Indonesia yang bahkan tidak tersentuh keberadaannya.

That's why, I adore you, Will.

Dan dimulai dari saat itu dimana, buku harian itu sudah tidak di tanganku lagi melainkan berserah pada seorang rekan, aku yakin bahwa dari seluruh jilid yang harus kubuka dengan seksama , ini yang terbaik. Benar kan, akhirnya pada satu pertemuan besar, aku dan kelima orang rekan begitu ambisius mengatakan ini sebagai salah satu yang terbaik yang harus naik cetak, walau hanya dua orang yang kemudian menyetujui pendapat kami. Betapa bahagianya aku akhirnya kami mendapat kabar bahwa tulisan Karla tentang semua kenangannya denganmu akhirnya bisa dinikmati oleh seluruh penikmat sastra di Indonesia.

Maaf sebelumnya kalau lancang , karena aku dan beberapa orang sahabat yang membuatnya seperti itu. Karena masyarakat Indonesia harus tau siapa elo Will, they should know and notice some one like you. Seseorang yang dengan segala keadaan yang ada pada dirinya selalu membuatku kagum sekaligus iri pada saat yang bersamaan.

Dan, ketika aku menemukanmu lagi Will, di salah satu kios buku yang ada didekatku, aku cuma bisa berkata : Will, dengan segala yang ada padamu, Indonesia seharusnya bangga punya kamu, mereka harus tahu kamu dan mereka harus berjalan di pihakmu untuk Indonesia. Karena kamu, sosok pemuda Indonesia seharusnya.

By the way, I still envy and adore you.

Salam-kenal

Arlan

Pengagum dan pembaca Forgiven (was Champagne Supernova)

6 comments:

Anonymous said...

ekhem!
Straight to the "point" bok review lo . .
Anyway, I envy you and william:p

Arlan said...

Ouch, thank you for reading my post.

By the way,you shouldn't envy me cause I'm nothing compares to william :)

Anonymous said...

kaka arlaaaaaaaaaan, baguss deh :-D

Anonymous said...

yang comment tadi itu, febriabee :-D

Arland said...

bagus emang forgivennya! hehehe beli dong, here,after juga bagus *haiah promosi*

*kemzora* said...

wwwooooowww..
Great. :)
Akhirnya nangis lagi setelah lama lupa cara menangis.
oh iya, itu Alfan, bukan Arfan. :)