Review film King

Well, sounds so annoying when you try to enjoy film at cinema but around you there are some children who make you have to control your wants to kill them, aarrghh.. salah banget nonton di tempat yang banyak anak-anak dengan keinginan untuk nonton film sangat nihil, yang ada malah lari-larian di bioskop tereak-tereak kaya babi lepas.

Dan para babi lepas itulah yang membuat gue sibuk bertanya sama teman sebelah gue si pras

“ man, punya botol gak? Gue pengen ngelempar tuh anak deh.”

Dan dijawab , “ sendal ada nih lan ” *devilish smile


Baidewei.. sesuai suggestion mr Dio, gue akhirnya meracuni temen gue buat sama-sama nonton King, dan here’s the review for King directed By Ari Sihalsale from Alenia Pictures dengan menganggap bahwa film ini bukanlah film yang dianggap as film untuk anak-anak karena pada dasarnya menurut gue film anak-anak atau bukan tetap saja harus digarap dengan bagus yang membedakan Cuma konflik yang lebih natural dan dimengerti untuk anak-anak dan bukan.

Gue belom nonton Garuda Di Dadaku (males tepatnya) jadi gak bisa ngebandingin dua film yang (katanya) mirip ini, but menurut gue King sendiri punya kelebihan dan kekurangan di beberapa aspek.

Starting from the good one menurut gue penataan dan sinematografi film ini cukup bagus, dimulai dengan settingan , tata kamera , introduksi awalan cerita gue cukup puas walau di penataan kamera sedikit ada yang mengganggu. Dan apa yang ada di film ini adalah scene-scene yang memiliki peran masing-masing yang menurut gue udah gak perlu dikurangin atau ditambahin lagi, karena kausalitas utama pembangun ceritanya udah cukup dengan tingkat penting-tidaknya yang pas. lokasinya sangat-sangat mendukung dan pas. Yang paling penting menurut gue adalah dengan sebuah background story yang sederhana, pengemasan film ini cukup tertata dengan baik, tidak se standar ceritanya. Good work. Apalagi part-part di film ini bisa dibilang semuanya penting, masalah friendshipnya , familynya , konflik batinnya , konflik sosialnya sampai ke masalah komedinya.

Nah, setelah berkutat dengan kelebihannya, kekurangannya menurut gue : menyinggung apa yang kurang sedikit di tata kamera adalah masalah efek blur dan flickr yang ada sedikit pada beberapa bagian mengganggu mata banget. Ditambah lagi ada beberapa longshoot lokasi yang menurut gue tidaklah bermakna dan memberikan efek di film itu. Lalu pada saat penambahan karakter dimana ada karakter-karakter baru masuk, terasa kurang smooth dan terlalu memaksa , terutama karakter Michele, bergabungnya si tokoh gadis kecil ini dengan guntur dan raden menurut gue terlalu dipaksakan. Lalu munculnya wulan guritno dan michele di desa itu , sampe adanya klub badminton menurut gue sangat kondisional sinetron yang tidak natural. Yang paling bermasalah selama perjalanan cerita film ini menurut gue adalah masalah porsi perjalanan dari awal sampai memuncak dan berakhir. Selama gue menonton, gue merasa introduksi pembangun ceritanya sampai sebelum menuju klimaks terlalu lama. Singkatnya , how they describe their motion to get the conflict sangatlah lambat, sementara how they run from klimaks to katastrofa di gas pol sampai terasa sangat kecepetan. Ending ceritanya serasa “hanya begitu saja” karena perjalanan dari konflik ke ending terlalu cepat. Akibatnya, ada beberapa karakter yang kemunculannya menjadi tidak konsisten karena selang-seling kemunculan yang membuat makna si karakteristik itu ilang. Gampangnya ada beberapa karakter yang muncul-ilang-muncul-ilang-muncul padahal sebenernya di saat ilang itu ada peranan penting yang serasa hilang. Efek kedua adalah konflik persahabatan diantara Guntur-Raden-Michele terlalu singkat dan jadi hilang efeknya. Padahal di film ini , konflik ini jadi salah satu penutup yang sebenernya bisa cukup manis buat gue. Manis sih emang, Cuma ada part yang ilang aja karena terlalu cepet berakhir partnya. Last effect adalah hard-journey-momentnya Guntur jadi kurang, kelamaan di awal kebelakangnya jadi gak ke eksekusi dengan baik menurut gue. Kesannya gue menangkap bahwa Guntur Cuma berjuang-berhasil-mencari yang lebih tinggi-berjuang dan berhasil. Tapi masa-masa berjuangnya sedikit banget dan ketutup sama masa-masa lain yang sebenernya Cuma pelengkap dan bukan intinya.

Kesimpulan akhir gue dengan tidak melihat bahwa film ini adalah film anak-anak yang melampaui batas film-film anak pada normalnya: Kebanyakan apetizer ini film, sampai-sampai saat main course dan penutup dateng lidah udah mati rasa karena apetizer,yang efeknya main course dan penutup jadi sepintas aja, padahal, harusnya sebagai seseorang yang menikmati makanan , main course dan penutup adalah eksekusi yang harus diutamakan. Score from Me : 7,3 per 10. Laporan Selesai!

0 comments: