Cerita Cinta Berakhir di Sini - Here, After

Seseorang pernah datang di dalam hidup gue, memberikan banyak sekali tentang kehidupan. About how sad life can be , and also for the opposite , how fun life can be.. Hidup seseorang gak pernah menjadi sia-sia, bahkan bayi pun lahir ke dunia dengan membawa satu misi berupa kebahagiaan bagi orang tuanya , atau setidaknya misi membawa pertalian darah untuk keturunan dari orang tua tersebut.


Same as you, someone who told me about how life's going in your sunglasses.

Namanya Mahir Pradana, dia salah satu orang yang kemudian memberikan gue suatu pengalaman bagaimana merasakan sesuatu dengan tanpa mengalami kejadian tersebut. Dia banyak sekali bercerita ke gue, tentang suatu pertalian yang mengikat kumpulan orang yang membawa misi dengan pengalamannya masing-masing.



Sebut saja Adi (nama disamarkan) , dia adalah salah satu orang yang merupakan teman gaib dari mas Mahir. Gue inget banget gimana mas Mahir cerita, kalo teman mayanya yang satu itu mengalami satu fase kehidupan yang… beberapa orang menginginkannya dengan mudah sementara di lain sisi others struggle to not keep in touch with that phase. Patah hati, dengan seseorang yang posisinya berada jauh disana sehingga orang ini tidak bisa diraih dengan mudah.



"will someone please call a surgeon who can crack my ribs and repair this broken heart?" - Nothing Better (The Postal Service).



Huh? Apakah dokter bedah menangani penyakit patah hati juga? Yeah, bullshit. Dokter pun tidak bisa menangani specimen penyakit yang satu ini, only time can heal. Tapi mungkin lucu juga ya kalau ternyata seseorang yang meninggalkan elo dengan mudahnya bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, namun harus mengalami masalah yang sama dengan orang itu sama seperti masalah yang membuat gue dan dia harus putus. I wish.



"She's like the wind…"



Gue cuma tau rasanya patah hati, rasanya gue harus membuang jauh pacarnya mantan gue saat ini, ke sebuah negeri antah berantah, dengan berharap bahwa ia dan saudaranya menemukan gadis lain dan pergi jauh dari mantan gue.



Do I have to think that you're struggle with all of this? Do I have to ask about how happy you are in this steps?



"Why's it always you and never me. I've never cared too much about honesty.."



Gak akan ada kata keadilan, kecuali dia harus merasakan rasanya patah hati, mungkin dengan melihat seseorang yang sangat disayanginya setengah mati ternyata harus terpisahkan karena sebuah perjodohan dengan orang gila yang kemudian diketahuinya juga tidak menginginkan perjodohan tersebut?



Dasar orang gila, apa rasanya menikah tanpa cinta? Detik ini perjodohan masih eksis? Ya, tanyakan saja pada sang perawat yang menemani si orang gila ini, berharap matanya tidak terbutakan oleh tampang si orang gila dan kemudian membelanya habis-habisan karena jatuh cinta padanya. Sinting, mana ada orang waras yang jatuh cinta pada orang gila?



If that's exists, I just want to say HAH? Jatuh cinta pada suami orang yang waras saja sudah cukup gila, apalagi kalau suami orang itu orang gila.



Well that's life!



Even problem about getting your husband out from my girl is so hard to do when your heart beats to the other guy.



What a f*ckin life!



***



Hey , there! Bingung sama postingan gue diatas? Noooooooo, gue gak lagi curhat di blog. Gue Cuma berusaha mengupas, apa yang sudah gue rasakan setelah gue berada disini dan setelahnya.



Here, After.



Dulu banget, gue pernah mengangkat tangan ketika bapak-ibu guru memberikan pertanyaan yang menurut gue bisa gue jadikan percept dalam processor gue untuk memproduksi sebuah output.



Dulu banget, gue pernah mengangkat tangan ketika MC di panggung bertanya siapa yang mau dapet hadiah.



Dulu banget, gue pernah mengangkat tangan hanya sekedar untuk mengajukan diri sebagai mereka yang hendak bertanya dalam sebuah diskusi.



Dan not a long time ago, gue mengangkat tangan ketika seseorang menanyakan "Siapa yang setuju novel Diana terbit?"



Gue masih inget ketika waktu itu geng FRT dewasa sibuk memaki-maki (not literally means, believe me) naskah yang sebenarnya mereka ajukan dalam top 5 menurut mereka, sementara geng bom pensi ,geng nuklir, dan geng narkoba (baca : aveline,ayas,ribka,mega dan gue) sibuk cekakakcekikik karena geng dewasa belum menyadari kalo orang yang mereka silet lewat mulut ada di hadapan mereka.



What a funny memories. Ya, sekarang naskah yang dulu dicerca itu sudah berevolusi jadi lebih cantik dari sekedar kumpulan kertas A4 dengan tinta hitam dan jilidan lakban. Walaupun agak sedikit kecewa karena kecantikannya banyak cacat fisiknya :p *no offense ya mas-mas dan mbak-mbak penunggu Gagas Media*



Ketika gue tau Mbak Windy Ariestanty memposting bahwa #NovelHereAfter , begitu kita biasa menyebutnya di twitter , sudah bisa disilaturahmi di toko buku di wilayah selatan Jakarta, gue langsung merencanakan bahwa ketika gue pulang nantinya, gue akan pergi berkunjung ke surge gue tersebut buat sekedar menyapa kasir dan memberikan #NovelHereAfter itu. No , novel ini bukan bikinan gue ya teman-teman, ini bikinannya mas Mahir Pradana, gue Cuma membantu beliau *deuile beliau* untuk memperkenalkan si pendatang baru di kancah perbukuan ini kepada khalayak.



Actually , ketika gue berhasil mendapatkan buku ini, gue sama seperti kata aveline di sini. Gue tidak sebegitu interestnya membuka halaman-demi halaman selanjutnya. Gue saat itu juga sedang dalam proses menamatkan sebuah novel keluaran Gagas Media juga , judulnya "Halo, Aku dalam Novel" dan gw memang lebih prefer membuka halaman demi halaman #NovelHereAfter . Namun kenyataannya, neither si novel Halo nor #NovelHereAfter yang gue bela-belain baca didalem bis waktu itu. Simply said, I'm not interested in #NovelHereAfter 's 1st chapter. Okay , you can said that I love the way the character complains about his life with his genious lemma, but it is still unstatisfiable to make me stay in it's page. Sorry.



Eits, tunggu dulu. Kalo kata pepatah don't judge the book by it's cover, sama. Don't judge this book by it's 1st chapter *maksa* *bikin paham sesat sendiri* Gue udah buktiin, setelah gue menemukan minat untuk membaca si pendatang baru yang satu ini, jujur, mulai bab dua kebelakang, gue gak bisa berhenti ngebaca si novel yang satu ini.



Gue suka ketika mas Mahir memainkan opini yang agreeable by readers by his thoughts with cool words and make him looks very very very very genious <--- lebay dikit boleh ya ? :D



Gue suka ketika mas Mahir bisa berhasil mengangkat si karakter yang cuma muncul dalam sekian halaman ini menjadi salah satu karakter yang sangat bisa menusuk orang * Coba Baca chapter 5 deh yang tentang Arya*



Dan gue suka ketika mas Mahir bisa membentuk plot dengan intersection dan link list character yang menarik dalam sekumpulan array of point of view yang membentuk sebuah markov loveable story chain.



*Dan perlu dicatat saya tidak 'menyukai' mas Mahir , masih sadar kok saya sama kodrat* #abaikan



Membaca cerita ini membuat saya teringat pada sebuah cerita horror Thailand 4bia dan 4bia2. Walaupun 4bia dan 4bia2 tidak mengandung cerita cinta menye-menye tapi kalau digabung rasanya #NovelHereAfter tidak kalah menariknya dibandingkan dua buah cerita itu, eventough still there's short story's feel because of it's fragmen tapi gue sangat menikmati baca novel ini.



Kesimpulannya : kalo gue bisa memusatkan pikiran gue untuk menggerakkan pikiran lo, maka gue akan mentransfer pemikiran gue bahwa lo harus beli #NovelHereAfter ini *ga nyambung* *maksa* *yang penting tujuannya tercapai* *kebanyakan nonton the big bang theory* *geek* *ehkenapabanyakbangetini*




That's all folks para orang yang tersasar :)

Nb : more about #NovelHereAfter :
Judul: Here, After
Penulis: Mahir Pradana
Jumlah Halamanan: 198 hlm
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp34.000
ISBN: 979-780-449-6
coba cek di sini dan di sini

tambahan : baru diedit : Flash presentation review here,after : bisa download di sini

Ngalor-Ngidul

Hello there! Sepertinya sudah sangat lama tidak bikin blogpost . Maklum ya selain sibuk berburu SKS, belakangan banyak banget hal dan tugas yang musti dikerjain sampai akhirnya lupa lagi sama yang namanya menulis blog...

and then.. sebenernya gue belom menemukan sebuah topik yang cukup menarik untuk di share. Hidup gue belakangan beneran monoton. Gue sendiri sebenernya sampai merasa bosan sendiri...

dan.. sebenernya sampai saat ini juga gak ngerti apa yang harus gue share :p

Akhirnya tanggal 30 Oktober 2010 kemaren, gue officially selesai dengan kewajiban harus datang ke kantornya Gagas Media yang di Montong. Term first reader team gue sudah habis terhitung tanggal tersebut. Akhirnya sekarang gue bebas dari yang namanya bacai naskah-naskah yang cukup unik menurut gue.

Kesannya? Seru lah pokoknya, ketemu orang-orang yang seru, bisa ketemu naskah yang unik (walau harus diem-diem baca naskah ditengah kelas ataupun tidur pagi karena baca naskah) dan sampai saat ini gue masih sangat ketagihan membaca novel, any genres,any authors asal "bagus".

Sebenernya gue salah satu orang yang tergiur ketika ada advertisement di blognya gagas kalau "gagas mau menghire segrup orang untuk bacain naskah dan dibayar". Actually it sounds fun. Tapi, percaya sama gue, nothing in this world fun in two way. Reading and Payment. percaya sama gue.

Di Gagas gue banyak banget dapet pelajaran dari bacain dan ngereviewin sampe waktu satu sama lain saling cerita tentang pengalaman masing-masing. Seru. Termasuk juga ngedapetin naskah ajaib nan unik juga ada. dan kalau para calon #FRT ngebayangin mereka bakal dapet naskah seperti yang di toko buku well, i guess make up your mind. Diantara naskah awal (penulis) dan toko buku ada editor loh dibaliknya, jadi sebaiknya berpikirlah rasional kalau naskah mentah susah sekali dicari yang sebagus seperti yang ada di toko buku *gampar diri sendiri*

Gue sendiri udah berada di tahapan suka membaca, senang membaca, rajin membaca sampai enek membaca selama 2x term FRT di gagas, mulai dari seru, "yah gitu deh" sampe seru lagi. Worth it lah kalau sekedar mencari experience terutama "uang saku" :p

Dan sekarang setelah selesainya semua naskah di term gue, tinggal menunggu terbit/tidak. kalau terbit tinggal promosiin penulisnya, siapa tau penulisnya bisa dikadalin dengan : Traktir dong!!! :digeplak:

Banyak banget advantagesnya sih menurut gue, bisa mengenal orang-orang baru (yang bisa jadi asik bisa jadi enggak-atau bahkan menyadari bahwa dunia semakin sempit karena orang yang baru lo kenal adalah temennya temen lo atau mungkin tetangga lo :geez:), ketemu para editor/ awak gagas yang setia menemani setiap minggu, ketemu naskah unik, belajar gimana caranya menyampaikan hal-hal yang sebenernya kalau lo sampaiin langsung jadinya kasar tapi mau gak mau harus lo sampaiin dengan cara halus lewat tulisan, belajar presentasi dan mempertahankan argumen, belajar gimana caranya menganalisis suatu cerita sampai gimana caranya memanajemen waktu supaya kegiatan sehari-hari-baca naskah - dan mereview naskah menjadi satu hal yang tetap saling mendukung tanpa harus ngorbanin satu demi satu.

that's my point of view in being FRT. sampai sekarang gue masih suka iseng-iseng bikin review dan bacain novel. Bahkan lagi nunggu novel Here, After. Soalnya sepertinya asik untuk disilet-silet dan dijadiin bungkus kacang *sebentar lagi digorok penulisnya*

Anyway, mari kita ngalor ngidul *saking gak ada ide mau nulis apa*

Apa yang belakangan terjadi dalam hidup gue ya? minggu ujian midterm, belajar mati-matian karena sebelumnya gak pernah masuk kelas, sempet dikerjain sama Ilham Ramdana dan Joy Ritchie yang ternyata 'Gagal' <--- udah tau duluan soalnya. deadline tugas yang membuat gue tidur jam setengah 6 pagi dan bangun jam 6 pagi. 'main' ke rumah temen kampus gue buat ngoding berasa gak ada sesuatu. Berita juga jadi macem-macem dan gak berguna, gue kayaknya mulai hidup yang biasa-biasa saja. Mungkin gue akan berhenti dulu menulis sampai gue menemukan topik yang cukup enak untuk di share.

see ya, for a long time :P

Best I ever Read : The- Announcer by Ibnu Novel Hafidz


Judul : The Announcer
Penulis : Ibnu Novel Hafidz
Penerbit : Navila
Cetakan : Pertama 2010
Tebal : x + 298 Halaman

I finally Found!!! *teriak gak santai* ehm, udah lama sih sebenarnya gue menemukan novel ini.

But I still love it. Semenjak dulu sebenernya gue agak curious sama dunia penyiaran, dan pengen banget banyak tau terutama gimana kalau seorang penyiar bertutur tentang kehidupannya sebagai penyiar, terutama penyiar malam. Kayaknya seru dan banyak aja yang bisa diceritain. Gimana seorang penyiar malam tetep harus siaran ketika banyak orang sebenernya tidur dan mengistirahatkan diri. Gimana seorang penyiar malam harus tetap jaga kondisi dan nahan suaranya supaya tetap siaran dengan santai setiap malam. Penasaran ga sih? Engga ya mungkin.. emang gue aja yang terlalu kepo berarti :hammer:

So far, gue belom menemukan naskah yang mengangkat cerita penyiaran yang bener-bener ngangkat kisah seorang penyiar dalam dunia siarannya, mungkin gue aja yang belom nemu. Yang paling mendekati mungkin buku yang gue beli waktu ada bazaar buku, lupa lengkap judulnya tapi kalo ga salah 104,6 Radio biru or something like that. Cerita tentang penyiar ngebawa beberapa kali penyiarannyanya but mostly naskah itu juga ngangkat kehidupan penyiar di luar dunia siarannya walau masih nyangkut waktu kerjanya dan itu sedikit banget.

And now I finally found! Karangannya Ibnu Novel Hafidz, judulnya the announcer. Pertama kali ngeliat gue langsung interest sama novel ini, sekaligus takut buat ngebelinya karena gue berfikir kalau novel ini tetep akan ngangkat kisah penyiar kaya yang udah-udah. Tempelan.

Ternyata enggak. Here I copy synopsis from the book’s back cover :

Suara penyiar itu seolah memiliki daya magis yang mampu menyihir pendengarnya. Getar pita suaranya yang berat nan berwibawa telah membuat hati para wanita yang mendengarnya turut bergetar penuh gejolak. Tapi sang penyiar bergeming. Ia sadar, ada bukan untuk mengulik nafsu syahwat, namun untuk bicara tentang kebenaran dan kesejatian cinta.
The announcer berkisah tentang liku-liku kehidupan penyiar di radio. Bukan hanya di udara, tapi juga dalam kehidupan nyata. Ia berkisah tentang perjuangan Sang penyiar dalam menghadapi persaingan dengan radio lain di tengah hingar binger budaya pop yang kian materialis. Juga tentang perjuangannya untuk menjaga keutuhan cinta. Rentetan demi rentetan dalam kisah ini memberikan cermin bahwa hidup tidak hitam dan putih.
Selain bertutur dengan jujur dan lugas, novel ini sangat menyentuh dan memberikan inspirasi bagi siapa saja yang hendak meneguk kearifan hidup.

Menarik? Kalau enggak try my synopsis :

Ini adalah cerita tentang Bara, seorang lelaki cerdas, taat beragama, berbadan atletis. Figur seorang lelaki yang sangat sederhana dan sangat kebapakan sekali. Tanya dia tentang profesinya dengan bangga dia akan menjawab Penyiar. Pekerjaan yang menurut orang tidak bisa menghidupi keluarga, tapi hal itu yang selama ini dilakukan Bara. Bekerja sebagai penyiar, menguasai pasar udara di Jakarta, untuk Karina. Istrinya yang sebentar lagi melahirkan anak pertamanya.

Suatu saat dimana seharusnya Arcadia building tempat Bara siaran memancarkan suara nan merdu yang selalu dinanti para pendengar, heboh dengan permohonan izin Bara untuk tidak siaran karena harus menemani Karina melahirkan anaknya di rumah sakit. Penyiar lain bingung, Program director lebih bingung lagi. Karena menurutnya seorang Bara, irreplaceable. Bara pergi ke RS dan Program director menunjuk seseorang untuk menggantikan Bara dengan syarat : tidak menjalankan program Bara, melainkan memutar lagu dan mengabari pendengar tentang kondisi Bara.

Bara menemani Karina, istrinya yang sangat manis, dalam proses persalinannya. Anaknya akhirnya lahir. Perempuan , kembar. Persalinan selesai, Anaknya selamat dibawa menyusu ke ibunya dan Bara tetap menemani Karina sambil bercakap-cakap. Sayang tidak berapa lama setelahnya, Karina meregang nyawa. Ia terlalu lelah untuk satu proses persalinan besar ini. Namun ia berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai ibu, memberikan ASI bagi anaknya, member nama bagi kedua putrinya , memastikan ayahnya menjaga kedua putri mereka.

Setelah semua terjadi, Bara mengundurkan diri dari dunia penyiaran Jakarta. Ia pindah kerumah Ibundanya tercinta di daerah Pekalongan dan membangun suatu radio dakwah disana. Bara memang punya kecerdasan di bidang ini, hanya beberapa saat Radionya pun sukses. Namun demikian, beberapa saat setalah anaknya masuk ke bangku sekolah, Bara dikirimi surat oleh Habib Husein. Radio di Yogyakarta yang dulu dibela oleh kakeknya untuk tetap mengudara butuh bantuannya. Dilemma mulai muncul, Bara harus meninggalkan anak-anaknya, ibunya, keluarganya ,teman-temannya dan Radionya. Untuk satu pilihan Dakwah yang lebih luas , Bara mengambil pilihan itu. Ia menjatuhkan pilihan. Mengorbankan sesuatu sementara untuk hasil yang lebih baik.

Dan demikianlah Bara, Masuk sebagai Program director Radio Suara Suhada dengan semua ganjalannya. Menghadapi orang-orang yang tidak koperatif, kondisi radio yang tergolong mengenaskan. Bara harus membangun radio ini dengan keluarga barunya yang satu per satu harus kembali padaNya. Tindakan anarkis, makian pendengar, kehilangan tokoh pendukung, fitnah, client yang mencoba bermaksiat pada Bara semua harus dihadapinya, untuk menghidupi Radio ini.

Bara memang sangat cerdas dan baik, jalannya membangun radio ini kembali ke masa jayanya melawan radio lain cukup mulus dengan beberapa bantuan orang-orang yang tentunya sangat menyayangi Bara. Keluarganya, teman-temannya, bahkan Aisyah. Dokter cantik yang saat ini praktik di Yogyakarta. Aisyah adalah dokter yang membantu persalinan Karina.

Respek, pendengar, rating, sponsor semuanya akhirnya didapat Bara. Radio Suara Suhada bisa hidup lagi, bangkit menuju level kejayaan yang sama. Semua berkat… Bara dan timnya dengan segala keminiman yang harus mereka jalankan selama mengoperasikan radio ini. Termasuk cinta keduanya, Aisyah.

Sayang, disaat semua kejayaan kembali datang pada Bara, ia memutuskan untuk… memusnahkan suaranya kecuali untuk keluarganya. Karena..?

Menarik gak? Kalau enggak salahnya di gue berarti bikin synopsis nan kacau :p

Nah, apa sih hebatnya novel ini? Diluar temanya yang agak tidak familiar buat diangkat ini, kemudian timbul alur penceritaan yang tidak terbaca akan dihentikan dimanakah cerita ini. Hebatnya lagi tiap-tiap part dalam alur novel ini terasa padat dan berisi tanpa harus mengisi dengan efek suara yang gak penting, percakapan yang tidak bermakna ataupun bahasa-bahasa slank yang membuat seorang penulis keliatan Gaol gilaaaa. Kenyataannya novel ini hadir dengan suatu penggunaan bahasa yang kurang fleksible dan lumayan kaku, namun pemakaian bahasa seperti ini justru menguatkan feel kesederhanaan dan kearifan dari tokohnya. Makna dan moral yang coba disampaikan penulis lewat novel ini sangat tersampaikan dengan segala kesederhanaan yang ada pada novel ini. Ini novel yang cukup padat isinya.

Penyiar harus gaul (dalam artian hampir seperti selebritis dengan kehidupan glamournya) terbantah disini.
Penyiar pekerjaan mudah terbantah disini.

Inti dari dunia penyiaran adalah tujuan radio lo, informasi atau hiburan. itu dia, bukan seberapa keren dan gaul atau ahlinya seorang penyiar. Buktinya : Bara.

Banyak yang harus lo tau sebelum bilang dunia penyiaran itu mudah untuk dimasuki, bukan pekerjaan yang penting dan menjanjikan. Coba baca naskah ini, kalo lo masih belom bisa nemuin peranan seorang penyiar dengan pekerjaannya yang hebat, dan lo gak tersentuh dengan naskah ini gue rasa lo miss a whole part di novel ini..

atau mungkin gak punya hati? *senyum iblis*

Sebenernya kalau dibaca bener-bener novel ini tuh intinya adalah bercerita tentang kekuatan seorang penyiar, terutama pada sumberdaya suaranya. Gue pernah punya kenalan (yah bisa dibilang teman versi gue entah versi mereka *menyedihkan*) seorang penyiar dan gue pernah juga ngerasain gimana power dari suara dan kharisma seorang penyiar. Pernah gak lo sebelumnya mendapati banyak orang menangis hanya karena seorang penyiar akan resign? Atau mungkin seorang pendengar yang rela mantengin penyiar kesayangannya sampai larut malam hanya demi untuk sepatah kata 'hai'? dan Pernah gak lo nemuin kekuatan seorang penyiar yang mampu jadi motivasi bagi seseorang untuk bisa menemukan langkahnya ke depan terlebih : tujuan hidupnya?

I've found it. Gue ada rekamannya yang bisa membuktikan itu, betapa berharganya seorang penyiar dimata pendengarnya. Dan betapa berharganya malam-malam waktu siaran seorang penyiar yang cuma 3 jam. *bingung gimana ngeshare-nya ya?* Gue pernah send attachment ini ke e-mail temen gue juga.
And to be concluded : Penyiar bukan pekerjaan gampangan, bukan pekerjaan yang tidak berarti. Kalau lo bisa membongkar dan bisa lebih dekat dengan kehidupan mereka, Lo tau, penyiar is a hero for his/her listeners.

oOo

 Attachment : Adrian Martadinata Last announcing in kelas Malam Global Radio

Postingan pas lagi labil. PillowTalk - setiap Hati punya rahasia.

Setiap hati.. punya rahasia..


Kami, bersahabat sejak kecil. Tepatnya, kalau ada kata lain untuk menggambarkan sesuatu yang melampaui sahabat, maka kata itulah kami.


Berbagi cerita, berbagi rahasia.


Bahkan, tanpa disadari, kami pun membagi cinta.


Tapi, apakah kau tahu, rasanya saling mencintai namun bertahan untuk tidak saling memiliki?


Percayalah, ini lebih buruk dari sekedar patah hati. Ini bukan kisah cinta yang ingin kau alami.

oOo

Sumpah, gue speechless baca novel ini.


Buat gue sendiri, belajar dari salah satu pengalaman seseorang lewat penceritaan yang ia lakukan kepada gue, tema yang diangkat novel ini merupakan tema yang sangat nyebelin. Tema sahabat jadi cinta, tema sahabat jadi kakak-adik, tema sahabat yang saling suka dan memendam perasaan satu sama lain, tema sahabat yang sebenernya saling suka tapi memilih mengabaikan perasaan itu dan menjodohkan sahabatnya dengan seseorang. Bener-bener tema yang buat gue geleng-geleng, menghela nafas, sampai senyum-senyum sendiri ketika baca karya Christian Simamora yang satu ini. *jujur loh ini, gue sampe berenti baca pas lagi di suatu kelas mata kuliah gue yang membosankan karena gak mau dosen gue mengira kalau mahasiswanya ada yang lagi sakit jiwa*


Sebenernya simple benget sih ceritanya, hanya sebuah tulisan yang menceritakan tentang perjalanan hidup Emi dan Jo. Suatu tahapan dalam perjalanan untuk dua orang yang sudah terikat dalam satu jalinan persahabatan semenjak lama, sedemikian lama, sehingga mereka berdua sudah harus sadar akan salah satu bagian kehidupan yang namanya Cinta. Emi punya Dimas dan Jo punya Trina. Bukan masalah besar toh seharusnya?


Memang bukan masalah besar. Apalagi kalau ternyata dibalik kehidupan percintaan mereka yang berjalan normal tersebut Emi menyukai bahkan lebih intens mencintai Jo dengan caranya. Begitu pula Jo terhadap Emi. Dan keduanya memiliki suatu kesepakatan pemikiran yang tercipta tanpa melalui diskusi informal sekalipun untuk tetap menjaga perasaan itu hanya untuk dinikmati sendiri.


Ya dinikmati sendiri. Bahkan Emi tidak berfikir untuk menshare perasaannya kepada Jo. So does jo to Emi.


Err.. Hubungan mereka pun berjalan pada tahap yang cukup normal sebenarnya (kalau memang kategori normal memuat saat dimana lo bisa horny melihat sahabat lo sendiri, dan lo gak bisa tahan emosi saat ngegepin temen lo make out sama pacarnya sendiri) sampai ketika keduanya mengalami status percintaan yang sedang tidak isi. Keduanya putus untuk alasan yang sama. Emi putus dari Dimas sang lelaki mapan yang menurut Jo lebih pantas ia panggil Bapak- karena perasaannya terhadap Jo (dan beberapa alasan lain sih) sementara Jo putus dari Trina karena ia.. lebih memilih Emi.


Ini kasus yang sudah kesejuta kalinya mungkin dalam hidup mereka. Putus, Karena pasangan mereka tidak bisa menerima bahwa mereka lebih peduli pada sahabat kecilnya itu dibanding pasangan mereka sendiri.


Dan keadaan ini membawa mereka dalam tahapan kakak-adik yang lebih intens. Tahapan dima sebenernya lo pengen ada status lebih dari seseorang tapi lo gak bisa mendapatkan itu. Maka alternative lainnya ya status kakak adik ini *sigh*


Banyak sekali kegiatan dari emi dan Jo yang akhirnya membawa mereka pada tahapan bahwa Gue-tau-lo-care-sama-gue-tapi-gak-usah-berlebihan-dong. Yang sebenernya merupakan perwujudan perasaan mereka yang gak kesampaian itu. Wajar gak sih kalau seorang sahabat melarang sahabat wanitanya untuk tidak dekat-dekat dengan bosnya tanpa alasan yang jelas?


And that was what Jo did to Emi.
Gak cukup sampe disitu, klimaksnya adalah saat Jo dan Emi dengan segala kegundahan atas perasaan masing-masing, berlibur bersama ke Bali dengan tiket gratis yang didapat Jo melalui kantornya. Enggak mereka gak berdua aja, ada temen-temen kantor Jo, bahkan bos Jo, yang ikutan dalam acara ini. Tapi karena Jo mengajak Emi sebagai bagian dari keluarganya, mau atau tidak mereka berdua harus sharing a room without sharing a bed.


Mudah? Tentu saja mudah kalau bersama sahabat sendiri, apalagi kalau lo punya perasaan sama sahabat lo sendiri. Mudah sekali rasanya harus bisa menjaga emosi lo saat sahabat lo secara tidak sengaja memperlihatkan anggota tubuhnya yang nyaris telanjang kepada lo. Berkah mungkin, tapi disaat lo harus menahan semua perasaan lo, apa ini masih bisa dibilang berkah?


Waktu berjalan, dan gak bisa dipungkiri, Jo menyesal mengajak Emi ke Bali. Karena saat mereka di Bali adalah saat-saat yang benar-benar sulit menjaga perasaan mereka masing-masing. Suka duka gembira marahan cemburu-cemburu kecil terjadi. Bahkan. persetubuhan pun tak bisa dielakkan, pengakuan pun terucap atas perasaan masing-masing.


Sayang, menurut Emi hanya What happens in Bali, stays in Bali


Nyesek gak sih? Gimana kalau lo jadi Jo?


Tetap berjuang pastinya, tetap untuk mengejar perasaan Emi yang entah mengapa teteap tidak bisa menerima kelelakian Jo untuk bisa menjadi pendampingnya.


Dan masih ada beberapa bab lagi yang bisa lo baca sendiri :p *nyebelin*


*dan gue lancer banget ngetik sinopsisnya* *efek curhat nampaknya * *maap malah jadi curcol*


Anywaaaaay *berusaha mengalihkan topic curcol* Akhirnyaaa, gue bisa menemukan novel dengan cerita kakak-adik yang jauh-jauh-jauh-jauh-jauh-jauh lebih mapan daripada naskah yang pernah gue baca saat ini. Somehow buat gue topic kakak-adik ketemu gede merupakan topic yang sebenernya bisa menyilet hati beberapa orang karena emang gak sedikit yang pernah berada pada fase ini *malah buka kartu* dan IMHO, so far gue menganggap tema kakak-adik ketemu gede ini adalah tema yang sangat-sangat-sangat abege sekali, karena biasanya penulis memanfaatkan status seperti ini untuk sahabat yang mencintai sahabatnya namun gak kesampaian sehingga menganggap si cewek seperti adiknya dan itu terjadi di masa-masa yang rasanya masih labil tingkat dewa.


Dan hari ini, mulai detik ini, pemahaman gue berubah. Pillow talk menyangkal semua pemikiran gue diatas dengan menyajikan kisah kakak-adik-ketemu-gede-versi-dewasa-dan-mapan-dengan-feel-yang-sangat-menohok.


For Gods sake, I hate this novel a lot.


Gue benci ketika kak Ino dengan bahagianya mengangkat topic yang sangat menyilet gue *back to curcol*. Topik yang sebenernya simple, sederhana, tapi bisa diangkat seolah-olah sangat kaya akan sesuatu.
Gue benci banget ketika kak Ino berhasil dengan labirin alur-nya. Berhasil menciptakan suatu perjalanan yang cukup amat sangat naik sampai klimaks dan kemudian jatoh kebawah secukupnya.Plus isian part-part cerita yang sangat berhasil.
Gue benci novel ini bisa diproduksi pake bahasa yang sangat kaya, lugas,asik dan menarik walaupun agak sedikit terganggu dengan smiley dan beberapa slank bahasanya.
Dan Gue benci novel ini karena feelnya nendang banget. Benci sebenci-bencinya gue sama novel.


*bukannya malah bagus lan?* *angkat alis* *o_O*


Ya sih.. *pasrah melawan intelegensi. Labilitas minggir lo* tapi kok rasanya gue kenal banget ya gimana rasanya berada dalam posisi Emi atau Jo? *err Gigit bibir bagian bawah*


Pada Intinya. Jangan baca buku ini kalau kamu lagi mau jaga image di depan seseorang. Peringatan, kecanduan cerita ini bisa menimbulkan efek samping berupa senyam-senyum sendiri gak jelas, ketawa ngakak sendirian , ber hadeeeeh ria, sampai kepada megang jidat sendiri saking merasa tertohok.

*brb tertohok di pojokan*



Pillow Talk
Price: Rp47.500 (harga yang berlaku di Pulau Jawa)
Judul : Pillow Talk
Penulis : Christian Simamora
Harga : Rp47.500
ISBN : 979-780-393-7
Jumlah halaman : 462 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm

Perjalanan Mencari Sepotong Rindu - Mendamba by Aditia Yudis

“Ada mimpi yang tetap indah jika tetap jadi mimpi. Itu yang membuat kita terus berharap. Namun, ada pula kenyataan yang memang indah jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas meski tidak pernah memimpikannya sekalipun.”


Ada persoalan yang belum tuntas antara kita. Bukan, bukan dendam. Hanya tanda Tanya besar mengapa kau meninggalkanku di saat aku membutuhkanmu. Aku marah, kesal dan kecewa. Namun, semua itu tertutupi hangat cinta yang masih menyala-nyala dalam hatiku….. (Reno)

Setiap malam aku berdoa, suatu saat bisa mendengar suaramu lagi. Aku mendongakkan kepala ke langit, berharap kau melihat rembulan yang sama denganku. Kemudian aku menutup mata, takut waktu membuatku keburu melupakan raut wajahmu. (Adrianna)

Sebut aku sentimental, tapi aku sungguh merindukanmu. Apa kau juga begitu? (Reno dan Adrianna)

Apa yang bakal kamu lakukan ketika kecelakaan menimpa orang yang kamu sayang saat kalian sedang bersama? Apalagi kalau ternyata orang yang kamu sayang berada dalam kondisi kritis. Mungkinkah kamu seperti Adrianna yang meninggalkan Reno dengan alasan studi dan karir di Perancis karena tidak tahan selalu disalahkan atas kondisi Reno yang kritis padahal harusnya mereka akan melangsungkan pernikahan kurang dari satu minggu lagi? *panjang bener kalimatnya*

***

Sepuluh tahun setelah memori itu, Adrianna sedang berada dalam perusahaan tempatnya menghabiskan kegiatannya sehari-hari. Perusahaan yang sangat bonafit yang tidak pernah diceritakan Adri kepada orang tuanya. Tangannya sedang menggenggam mobile phone yang tersambung dengan ibunya. Untuk kesekian kalinya ibunya mendesak Adri, untuk pulang dan bekeja sebagai PNS di daerahnya saja, dan kemudian menikah. Dan untuk kesekian kalinya, Adri mengiyakan tawaran itu tanpa ada tindak lanjutnya.

Sampai ia bertemu Indra, lelaki keenam yang datang padanya dan mengatakan bahwa ada yang merekomendasikan Adri kepadanya. Ibunya Adri. Perjodohan. Sesuatu yang sudah sangat terbaca Adri.

Sayang, untuk kali ini ia tak kuasa menolak ibunya lagi… karena ibunya membawa sebuah nama untuk melawan penolakan Adri kali ini. Reno.
Kali ini Adri tidak bisa mengelak. Ia harus mencari Reno, mencari jawaban untuk sepotong rindu yang entah apa Reno juga merasakan hal yang sama, mencari jawaban untuk hati Reno yang entah masih menyimpan Adri, atau orang lain.

Reno, atau Indra?

Naufal.

Dia tahu semua tentang Reno dan terutama tentang aku dan Reno.
Dia kunci semua masalah ini.

***

there you go! Sinopsis gabungan gue sama bukunya menarik gak? *slapped* Anyway, cerita sedikit tentang buku ini. Awalnya gue tertarik sama novel yang satu ini karena judulnya. Satu pemilihan kata yang tepat mengena, dan manis tentunya. Kebetulan disaat gue dapet pinjeman naskah ini dari publishernya (maaf ya ga modal :p) gue membaca dengan diiringi playlist : Daniel Beddingfield - if You're not the one sama Glee cast – Lucky. Jadi makin ngena dan bikin gue senyum-senyum sendiri sepanjang baca novel ini. Bahkan beberapa saat setelah halaman terakhir novel ini gue tutup. <--- padahal setres *Pasang tampang serius* Buat gue pribadi, gue lebih suka pada sebuah cerita yang standard dan dengan detail yang tidak berlebihan, tapi feelnya kena. Dibanding harus bikin cerita dengan ide macem-macem tapi pas selesai, nothing happened karena feelnya tidak berbekas (walau lebih bagus kalau ceritanya gak standard dan feelnya kena sih). Dan gue bisa dapetin feel ini di novel Mendamba.

Gue rasa *sotoy mode : on*, novel ini punya kenangan tersendiri bagi Adit, penulis novel ini, karena menurut gue, caranya bercerita itu flowy banget, membuat gue membaca seolah-olah gue tau gimana perasaan seorang adrianna . Adit juga membuat gue berada dalam maze plot ceritanya yang menuntut gue untuk terus berlari memecahkan berbagai jalan menuju ending cerita ini. That's what I called good feel mixed with powerfull plot. FYI gue menyelesaikan membaca novel ini 2 jam. Cukup cepet buat novel romance yang dibaca bukan karena dipecut mbak Resita atau mas Mahir *kabur*

And one more thing, Adit bisa memberikan bahasa yang menarik ketika ia menyampaikan perasaannya dalam tulisan ini. It was terrific. Di kelas, gue pernah dapet pembelajaran kalau menulis sesuatu gunakan kata yang berbeda-beda biar kesannya kita lebih pintar dan berbobot dalam menulis (bukan berarti copy-paste cari sinonim. INGET!) ← curhat anak fasilkom. And Adit got this point, diksinya banyak simple dan well-prepared yang amat sangat kena ke mata.

Seandainya gue belom dapet pinjeman, i'm sure, buku itu akan tetep ada di rumah gue. Dan gue tidak akan kecewa merogoh kantong buat buku ini, Mendamba. *masih senyum-senyum sendiri abis baca novel ini* Mungkin bisa menjadi alternatif bacaan tentang satu romansa dalam satu waktu yang membantu merefresh memori atau mengkin meraih kembali cerita masa lalu tentang seseorang yang sekarang menjadi “mantan pacar”

that's all for this novel. See yaa! *lanjut ngerjain tugas*





Price: Rp34.000 (harga yang berlaku di Pulau Jawa)
Judul : Mendamba
Penulis : Aditia Yudis
Harga : Rp34.000
ISBN : 979-780-423-2
Jumlah halaman : 184 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm