Perjalanan Mencari Sepotong Rindu - Mendamba by Aditia Yudis

“Ada mimpi yang tetap indah jika tetap jadi mimpi. Itu yang membuat kita terus berharap. Namun, ada pula kenyataan yang memang indah jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas meski tidak pernah memimpikannya sekalipun.”


Ada persoalan yang belum tuntas antara kita. Bukan, bukan dendam. Hanya tanda Tanya besar mengapa kau meninggalkanku di saat aku membutuhkanmu. Aku marah, kesal dan kecewa. Namun, semua itu tertutupi hangat cinta yang masih menyala-nyala dalam hatiku….. (Reno)

Setiap malam aku berdoa, suatu saat bisa mendengar suaramu lagi. Aku mendongakkan kepala ke langit, berharap kau melihat rembulan yang sama denganku. Kemudian aku menutup mata, takut waktu membuatku keburu melupakan raut wajahmu. (Adrianna)

Sebut aku sentimental, tapi aku sungguh merindukanmu. Apa kau juga begitu? (Reno dan Adrianna)

Apa yang bakal kamu lakukan ketika kecelakaan menimpa orang yang kamu sayang saat kalian sedang bersama? Apalagi kalau ternyata orang yang kamu sayang berada dalam kondisi kritis. Mungkinkah kamu seperti Adrianna yang meninggalkan Reno dengan alasan studi dan karir di Perancis karena tidak tahan selalu disalahkan atas kondisi Reno yang kritis padahal harusnya mereka akan melangsungkan pernikahan kurang dari satu minggu lagi? *panjang bener kalimatnya*

***

Sepuluh tahun setelah memori itu, Adrianna sedang berada dalam perusahaan tempatnya menghabiskan kegiatannya sehari-hari. Perusahaan yang sangat bonafit yang tidak pernah diceritakan Adri kepada orang tuanya. Tangannya sedang menggenggam mobile phone yang tersambung dengan ibunya. Untuk kesekian kalinya ibunya mendesak Adri, untuk pulang dan bekeja sebagai PNS di daerahnya saja, dan kemudian menikah. Dan untuk kesekian kalinya, Adri mengiyakan tawaran itu tanpa ada tindak lanjutnya.

Sampai ia bertemu Indra, lelaki keenam yang datang padanya dan mengatakan bahwa ada yang merekomendasikan Adri kepadanya. Ibunya Adri. Perjodohan. Sesuatu yang sudah sangat terbaca Adri.

Sayang, untuk kali ini ia tak kuasa menolak ibunya lagi… karena ibunya membawa sebuah nama untuk melawan penolakan Adri kali ini. Reno.
Kali ini Adri tidak bisa mengelak. Ia harus mencari Reno, mencari jawaban untuk sepotong rindu yang entah apa Reno juga merasakan hal yang sama, mencari jawaban untuk hati Reno yang entah masih menyimpan Adri, atau orang lain.

Reno, atau Indra?

Naufal.

Dia tahu semua tentang Reno dan terutama tentang aku dan Reno.
Dia kunci semua masalah ini.

***

there you go! Sinopsis gabungan gue sama bukunya menarik gak? *slapped* Anyway, cerita sedikit tentang buku ini. Awalnya gue tertarik sama novel yang satu ini karena judulnya. Satu pemilihan kata yang tepat mengena, dan manis tentunya. Kebetulan disaat gue dapet pinjeman naskah ini dari publishernya (maaf ya ga modal :p) gue membaca dengan diiringi playlist : Daniel Beddingfield - if You're not the one sama Glee cast – Lucky. Jadi makin ngena dan bikin gue senyum-senyum sendiri sepanjang baca novel ini. Bahkan beberapa saat setelah halaman terakhir novel ini gue tutup. <--- padahal setres *Pasang tampang serius* Buat gue pribadi, gue lebih suka pada sebuah cerita yang standard dan dengan detail yang tidak berlebihan, tapi feelnya kena. Dibanding harus bikin cerita dengan ide macem-macem tapi pas selesai, nothing happened karena feelnya tidak berbekas (walau lebih bagus kalau ceritanya gak standard dan feelnya kena sih). Dan gue bisa dapetin feel ini di novel Mendamba.

Gue rasa *sotoy mode : on*, novel ini punya kenangan tersendiri bagi Adit, penulis novel ini, karena menurut gue, caranya bercerita itu flowy banget, membuat gue membaca seolah-olah gue tau gimana perasaan seorang adrianna . Adit juga membuat gue berada dalam maze plot ceritanya yang menuntut gue untuk terus berlari memecahkan berbagai jalan menuju ending cerita ini. That's what I called good feel mixed with powerfull plot. FYI gue menyelesaikan membaca novel ini 2 jam. Cukup cepet buat novel romance yang dibaca bukan karena dipecut mbak Resita atau mas Mahir *kabur*

And one more thing, Adit bisa memberikan bahasa yang menarik ketika ia menyampaikan perasaannya dalam tulisan ini. It was terrific. Di kelas, gue pernah dapet pembelajaran kalau menulis sesuatu gunakan kata yang berbeda-beda biar kesannya kita lebih pintar dan berbobot dalam menulis (bukan berarti copy-paste cari sinonim. INGET!) ← curhat anak fasilkom. And Adit got this point, diksinya banyak simple dan well-prepared yang amat sangat kena ke mata.

Seandainya gue belom dapet pinjeman, i'm sure, buku itu akan tetep ada di rumah gue. Dan gue tidak akan kecewa merogoh kantong buat buku ini, Mendamba. *masih senyum-senyum sendiri abis baca novel ini* Mungkin bisa menjadi alternatif bacaan tentang satu romansa dalam satu waktu yang membantu merefresh memori atau mengkin meraih kembali cerita masa lalu tentang seseorang yang sekarang menjadi “mantan pacar”

that's all for this novel. See yaa! *lanjut ngerjain tugas*





Price: Rp34.000 (harga yang berlaku di Pulau Jawa)
Judul : Mendamba
Penulis : Aditia Yudis
Harga : Rp34.000
ISBN : 979-780-423-2
Jumlah halaman : 184 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm

My 2 digits Binary interpretation

Wah, lama gak menyentuh blog ini. Akhirnya, i'm back with my blog *nyuri waktu sambil belajar buat kuis Human Computer Interaction besok pagi*

Sebenarnya kemaren... gak ada apa-apa sih, cuma berhubung gue dan internet sedang bermusuhan, sekalinya dapet ide untuk ngeblog tiba-tiba sampai kepada tahap yang.. "ah basi ah" dan gajadi posting. Malah mainan twitter,maaf ya blogspot-ku :*

Anyway, i change some of my blog. Berhubung desain yang kemaren uhm.. banyak yang bermasalah, gue menyederhanakan blog ini dengan template yang udah disediakan blogspot. lebih simple rapih dan tidak macem-macem. Dan menurut gue jadi lebih enak aja dibaca, kalo emang ada yang mau baca. Asal jangan seseorang dalam kantong sampah hidup gue yang kerjaannya baca blog gue dan bisanya ngomong di belakang gue. talk to my face hey you rubbish, and i dont think you're cool at all you've done.

malah jadi marah-marah gajelas. *maafkan saya*

sebenernya ini agak terkait sih sama apa yang mau gue tulis *jauh lan* jadi gini, dengan fitur follow-nya twitter.com i do follow people for some reasons, salah satunya emang waktu booming banget pas twitter dijadikan salah satu sarana persatuan para pemuda indonesia. i followed some of the, most followed person with all the great thnks about Indonesia.

dan beberapa bulan silam, hampir setengah tahun lebih. gue unfollow. *siapa elo Lan? Penting? *

well that's not my point dan gue rasa orang-orang tersebut juga gaakan notice kalau emang gue unfollow mereka.

However, my point is : gak ada yang berubah sampai sekarang. dan gue heran kemana para pemikir-pemikir muda itu sekarang? gue agak tersentil sama salah satu dialog ftv di sctv "Asal jangan kaya orang-orang yang aktif di twitter itu aja, banyak ngomong tentang indonesia ini itu tapi gak ada hasilnya" that's my point. Bahkan sapi jauh lebih baik, in a point of view mereka ga merusak, ga bacot , dan ... bisa dimakan.

Mereka ada, sibuk kritisi Indonesia, sibuk ini itu buat dan atas nama Indonesia. Do we change? yang ada juga mereka semakin populer dan indonesia semakin berubah dalam artian : kacau. Lucu ya, mengingat banyaknya orang hebat tapi gak ada hasilnya.

Dosen software engineering gue bilang, " kalau ada dua pekerja yang satu bekerja diemdiem aja dan yang satu bekerja sambil siul-siul, mana yang gajinya gede? pasti yang kedua, karena orang notice sama kerjaan mereka" agree ! tapi tidak untuk kasus ini, gue ngerasa untuk hal yang satu ini banyak berkoar tapi hasilnya gak ada, i prefer you to stop talkin' and take a silent break for yours.

Dan beberapa minggu belakangan, gue ngobrolin ini sama seorang sahabat di bbm berkali-kali, dan itu terpaku sama salah satu tokoh yang ada di universitas gue. rasanya gue makin malu jadi bagian di kampus ini. seseorang yang banyak banget bicara dan kritisi ini itu, tapi apa yang bisa dia lakukan untuk Indonesia? Sepertinya gak ada efeknya.

Dan gue gak ngerasa gue bisa jauh lebih hebat dari siapapun, karena gue juga masih jadi sampah di Indonesia, but at least, i do my role as rubbish, not as superhero or more than that, act like a superhero.

Teori gue cuma satu, ketika seorang memang benar-benar cerdas, ramah , baik , dan lain-lain yang merupakan suatu kata sifat yang positif, datangnya bukan dari mulut kita atau tangan kita sendiri. Penilaian ada di orang lain, dan selagi semua kata-kata itu keluar dari diri kita sendiri bukan dalam artian bercanda, gue cuma bisa menyimpulkan bahwa apa yang dia keluarkan adalah seratusdelapanpuluhderajat lebih dari apa yang dia ucapkan.

Gue tau ga semua orang yang sudah gue sebutin diatas sama dalam pandangan lo dan gue, but that's my opinion. Indonesia butuh rakyat yang bisanya aksi dan menghasilkan sesuatu dengan arah vektor positif,others : rejected from superhero registration.

ada 4 binary yang bisa dibentuk oleh dua digit : 11 , 10 , 01 , 11.

11 means a superhero playing a superhero role ,

10 means a superhero playing a rubbish role ,

01 means means a rubbish playing a superhero role and

00 means a rubbish playing a rubbish role.

where were you? i'm at 00 , the lowest position, but i think 01 is a worst position at all, and i found it in someone in my university, enek dan rasanya pengen gue masukin ke karung sampah.

So what are you in binary?

*balik belajar buat kuis HCI*

give my regards for he who said himself as a smart excellent brighter future student. Hell ya!

Forgiven - yang tak terlupakan ( I Adore You! Will )





Judul : Forgiven
Penulis : Morra Quatro
Harga : Rp36.000
ISBN : 979-780-432-1
Jumlah halaman : 266 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm
Price: Rp36.000 (harga yang berlaku di Pulau Jawa)





Ketika seseorang terlalu cerdas, maka ia akan memiliki kelemahan secara sosial.
Kelemahan dimana ia hanya perduli pada dirinya sendiri dan beberapa orang disekitarnya yang mungkin ia sayangi. Benarkah itu , Will?

Hai, Will, kenalin Gue Arlan. Lo gak tau gue , karena kita gak pernah kenalan secara langsung apalagi bertemu.

gue , siapa?

gue cuma seorang mahasiswa yang mengagumi elo will, seorang Will yang layaknya seorang einstein muda dari Indonesia yang punya mimpi yang jelas dengan nuklir rancangan lo itu. gue cuma Seorang mahasiswa yang sangat mengagumi kecerdasan lo yang begitu mencintai Fisika disaat orang lain berfikir kumparan dan atom itu gak penting. gue cuma seorang mahasiswa yang hanya bisa melihat lo dalam tumpukan lembaran diarynya Karla. Diary yang lembaran depannya dulu kutemui berwarna merah dengan tulisan besar nama gugus bintang yang kalian kagumi bersama dahulu.

Champagne Supernova.

Sekarang, gue gatau, champagne supernova ada dimana selain di dalam benak gue.Tapi gue masih bisa nemuin lo will. Dibalik kertas tebal berwarna biru yg bergambar gugusan bintang berbentuk sepasang sayap malaikat. Seperti yang kau lakukan di langit untuk Karla malam itu.

Forgiven

Membaca diary Karla, gue merasa kalau you should be forgiven.

Mungkin sama seperti yang dirasakan Karla. Saat Ia bercerita bahwa will adalah seorang teman smanya. Saat ia bercerita bahwa Will selalu tampak lebih berharga dibanding Arfan sekalipun. Saat ia bercerita bahwa ia hanya ingin segala milik lo kembali pulih. Saat ia bercerita bahwa ia sangat butuh lo. Saat ia bercerita bahwa ia begitu melupakan kesakitannya setelah melihat lo di depan pintu apartemennya di Singapura. Saat ia bercerita bahwa ia begitu sakit saat dicampakkan seseorang hanya karena orang itu lo will. Saat ia bercerita kalau ia punya troy,malaikat kecilnya yang kukira...

Sudahlah,aku jadi kesal sendiri. aku iri will,padamu. Ya , hanyalah sebuah bentuk keirian atas sesuatu yang kau punya dan aku tidak. Seseorang yang begitu dalam menyayangi dirimu atas nama sebuah cinta walaupun ia belum menyadarinya.

Itu semua tergambar jelas Will. Saat karla sibuk memperbincangkan will begini will begitu sampai rasanya malam habis hanya membicarakanmu. Saat karla bisa menulis sebanyak 200-an halaman hanya menceritakanmu. Saat karla tidak bisa memikirkan seseorang selain dirimu. Saat karla bisa berbuat apa saja karenamu. Saat karla begitu hancur Hanya karenamu. Saat Karla berani mengumbar diarynya demi mengenangmu.

Semuanya cuma karenamu. Karena seorang Will.

Maaf,karena aku lancang berani membuka bab demi bab buku harian itu.

Karla banyak sekali menulis tentangmu.

Ia menulis pada satu bagian besar pertamanya tentang persahabatan kalian, tentang bagaimana kalian menjalankan rencana busuk atas nama persahabatan , tentang satu masa dimana diskorsnya Karla yang membuatnya tidak bisa bertemu dengan kalian walau sebenarnya hanya dirimu yg ingin ditemuinya, tentang seluruh masa sma dan kekagumannya padamu sepanjang masa itu. Karla menulis semua itu,Will, dengan semua keteguhan hatinya dengan keluguan dan kelugasannya, dan dengan keindahan bahasa yg dimilikinya. Semuanya begitu keluar saat dia bercerita tentang lo.

Dan ia menulis semuanya di bagian keduanya. Bagian dimana ia banyak sekali bercerita tentang kalian will. Tentang ia yang begitu kecewa meninggalkan Indonesia hanya karena hari terakhirnya tidak bisa berpamitan denganmu. Tentang impian reaktor nuklirmu yang akhirnya tercapai. Tentang ia yang begitu gembira menemukanmu di depan pintu apartmentnya sampai tentang suatu masa disaat bibirnya bertemu dengan bibirmu...

hmm..

suatu buku harian yang menarik sekaligus menyakitkan.

aku tidak pernah sebegitunya menikmati akan sesuatu hal, sampai ketika aku diberi buku harian itu. Melihat buku yang menurut rekomendasi seorang teman sangat menarik dibanding beberapa jilid lainnya, dan kemudian dua minggu setelahnya sepulangnya aku dari salah satu station radio swasta di Jakarta, aku mendapatkannya di Jl. Montong no 57. Sempat buku itu kusimpan, karena menurutku agak lancang membacanya tanpa izin penulisnya, namun akhirnya aku membawa buku harian itu kemanapun aku pergi, sambil mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka dan membacanya lembar demi lembar.

Saat itu, aku membukanya ketika kampusku masih teramat sepi dengan kondisi dimana kelas baru akan mulai satu jam lagi. Duduk di bangku yang disediakan di dekat sekretariat kampusku dan kemudian membuka lembar pertamanya. Beberapa lembar berlalu aku tidak bisa berhenti membacanya walau saat itu jam kelas akan segera dimulai, sampai akhirnya salah seorang sahabatku di kampus menginterupsi bacaanku.

untuk selanjutnya, aku tidak lepas dari buku itu.

Kelas selesai siang hari dan aku pulang dengan bis melewati jalanan daerah jakarta selatan dalam kondisi hujan. yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana melindungi buku ini dan kemudian melanjutkan membacanya walau harus mencuri waktu di dalam bis sekalipun. Dan itu kulakukan, bahkan disaat aku harus menunggu bis umum itu datang menjemputku.

Sepanjang jalan kubaca, sampai ketika harus turun rasanya tidak rela melepas buku itu walau hanya menundanya sejenak. sampai di rumah hal pertama yang kulakukan adalah : membuka pintu dan masuk menuju kamarku untuk melanjutkan membacanya. Hanya itu? tidak, selesai membacanya aku mengulang untuk kali kedua, menuliskan penilaian di form naskahku dan kemudian melanjutkan membaca jilid lain yang kudapatkan hingga selesai. Selepas itu, mengulang membacanya lagi. Dari 25 jilid yang kudapatkan, bahkan ada beberapa jilid yang tidak habis kubaca, namun khusus untuk jilid ini aku bahkan membacanya sampai tiga kali. puas? tidak tentunya.

Maaf kalau lancang, tapi saat itu Karla yang menamakan dirinya Morra Bandoputih dengan Champagne supernova itu begitu menyita pikiranku dengan keindahan bahasanya. Ya, semua itu isinya lo Will .

Dan dari situ gue mengagumi lo. Will seorang scientist muda dan ambisius yang sebenarnya merupakan cerminan pemuda Indonesia yang bahkan tidak tersentuh keberadaannya.

That's why, I adore you, Will.

Dan dimulai dari saat itu dimana, buku harian itu sudah tidak di tanganku lagi melainkan berserah pada seorang rekan, aku yakin bahwa dari seluruh jilid yang harus kubuka dengan seksama , ini yang terbaik. Benar kan, akhirnya pada satu pertemuan besar, aku dan kelima orang rekan begitu ambisius mengatakan ini sebagai salah satu yang terbaik yang harus naik cetak, walau hanya dua orang yang kemudian menyetujui pendapat kami. Betapa bahagianya aku akhirnya kami mendapat kabar bahwa tulisan Karla tentang semua kenangannya denganmu akhirnya bisa dinikmati oleh seluruh penikmat sastra di Indonesia.

Maaf sebelumnya kalau lancang , karena aku dan beberapa orang sahabat yang membuatnya seperti itu. Karena masyarakat Indonesia harus tau siapa elo Will, they should know and notice some one like you. Seseorang yang dengan segala keadaan yang ada pada dirinya selalu membuatku kagum sekaligus iri pada saat yang bersamaan.

Dan, ketika aku menemukanmu lagi Will, di salah satu kios buku yang ada didekatku, aku cuma bisa berkata : Will, dengan segala yang ada padamu, Indonesia seharusnya bangga punya kamu, mereka harus tahu kamu dan mereka harus berjalan di pihakmu untuk Indonesia. Karena kamu, sosok pemuda Indonesia seharusnya.

By the way, I still envy and adore you.

Salam-kenal

Arlan

Pengagum dan pembaca Forgiven (was Champagne Supernova)

2 reviews : part (1) Rain Affair - Lovasket 2

Rain Affair, Ketika Hujan Aku jatuh cinta.


Novel ini menceritakan tentang kisah dua orang yang akhirnya bertemu pada satu titik bernama cinta, setelah melewati sebuah pertemuan yang sangat memorable bagi keduanya
dibawah naungan titik hujan. bukan di tempat yang romantis, dan bukan dalam situasi yang mendukung tetapi sebuah chemistry telah tercipta pada tempat tersebut

kisah yang cukup klise, 3 orang sahabat yang terdiri dari 1 lelaki dan 2 orang wanita, dan terlibat sebuah konflik standar bernama cinta segitiga. Rain affair kemudian membungkusnya dalam sebuah intrik berupa sebuah keterpaksaan untuk menjalin hubungan yang kemudian mulai menjadi bom waktu dalam persahabatan ketiga tokoh tersebut. ditambah lagi hadirnya tokoh baru yang diam-diam menjadi denial dari perasaan sang tokoh utama.

tidak heran ternyata diujung cerita terbongkar semua dan memberikan efek-efek yang cukup menyengsarakan tokohnya. sebuah bumbu yang cukup klise. Yang menjadi menarik adalah keberadaan feeling dalam bagaimana seorang clara canceriana memberikan rasa dalam kebohongan-kebohongan Noah, dan bagaimana Clara memainkan perasaan diantara Lea-Noah dan Nathan yang kemudian terhubung dalam sebuah koneksi yang ternyata cukup dekat dan berputar.

Klise memang, tapi cukup dibalut dalam sebuah feel yang cukup berhasil. inilah yang kemudian menjadikan novel ini cukup berharga. simple, klise namun dekat dengan kehidupan kita dan dibangung dengan feel yang menarik.

Lovasket #2 : For the love of the game


Lovasket #2 , dari judulnya saja, sangat jelas, novel ini merupakan sequel novel berjudul sama,masih dengan Vira niken dan kawan-kawan kali ini kembali dipertemukan dengan Stela, musuh bebuyutan Vira, dalam kondisi dimana keduanya harus bekerja sama dalam tim junior provinsi Bandung. Kemampuan Individual keduanya yang bagus kemudian tetap dipermasalahkan karena kerjasama team diantara keduanya yang tidak terbentuk. Dari situlah masalah mulai timbul. Bagaimana Vira Stella dapat bersatu kembali karena tekanan pelatih dan juga kebersamaan tim junior yang dianggap remeh baik oleh sekitar dan juga tim senior mereka.

Banyak konflik yang kembali dimunculkan, stella yang ternyata punya masalah tersendiri sampai keluar tim, persahabatan Niken dan pacarnya dengan stella , sahabat baru yang datang dan pergi, semuanya dikemas masih dalam suasana kehidupan remaja dengan tingkat yang lebih mapan dibanding novel pertamanya. Masih se-simpel dan se-nyawa dengan novel pertamanya, kisah ini cukup menarik untuk dibaca oleh pembaca yang telah membaca seri pertama novel ini, untuk yang belum? sebaiknya baca dulu novel pertamanya, sama-sama menarik kok. Luna Torashyngu berhasil di karyanya yang ini.

Happy reading! still some reviews to come! *nyengir babi*

#marmutmerahjambu err..

Berbicara soal musik, semua orang punya selera yang berbeda-beda. Bahkan kalau saudara sedarah pun. Gue dan kakak gue sama-sama suka musik, walau kita sama sekali menyukai genre yang sangat bertolak belakang. Sama seperti gue dan kakak gue, gue dan beberapa orang juga punya kesamaan dan perbedaan. Sama-sama suka membaca karyanya Raditya dika, tapi mungkin kita punya perbedaan pendapat tentang karya itu.

Ketika tahu Buku kelimanya raditya dika marmut merah jambu mengangkat suatu tema percintaan, mungkin beberapa orang berfikir bahwa buku ini akan jadi tidak menarik karena orang-orang seperti ini menyukai seorang raditya dika dari isi bukunya yang dianggap lucu. Atau orang tipe kedua dari kasta klasifikasi fans berat raditya dika menurut gue adalah orang yang mata hatinya tertutup karena untuk apapun yang raditya dika tulis pasti dianggap lucu dan keren bukunya. Typically orang yang ngefans sama orang-bukan karyanya.

Anyway gue masuk mana? Gak dimana-mana di dalam dua kasta itu.

Ketika buku ini dikabarkan keluar dengan cerita percintaan yang dianggap orang jauh lebih serius dibanding bukunya terdahulu, pikiran gue keinget sama salah satu postingan radith yang berjudul orang yang jatuh cinta diam-diam. Entah kenapa gue suka postingan itu, dan gue juga salah satu penggemar tulisannya orang yang satu ini kalo lagi bener. Well, ya, gue tadinya girang waktu ternyata si penulis satu ini mau ngeluarin buku yang berbeda dari kemaren-kemaren. Tadinya.. *ditendang

Reading this book, bikin gue cukupk mengernyitkan dahi. Is this him? beda banget sama yang biasanya ditulis dia, entah di blog ataupun buku-buku sebelumnya.

Membaca chapter pertama, judul chapter yang sama dengan yang pernah gue baca di blog, namun dengan isi yang berbeda. Entah kenapa, gue tetep suka dengan versi orang yang jatuh cinta diam-diam di versi ini. Bukan cerita komedi, yang ditulis dengan campuran unsur komedi dan ditutup dengan suatu pandangan atas cinta diam-diam itu sendiri. Ini salah satu part yang paling gue suka di buku ini.

Chapter dua , gue bisa bilang gue cuma suka banget paragraf terakhirnya. Selebihnya suka sih, cuma menurut gue entah apa, tapi ada yang kurang di chapter ini, rasanya agak flat cenderung drop unsur komedinya.

Masuk chapter 3, well this is it! *ala farah quinn chapter 3 ini adalah chapter yang membuat buku ini terlihat raditya dika seperti biasanya. Unsur fun dan lucu yang biasa dia bangun di buku-buku sebelumnya bisa ditemukan disini, cerita dia dan edgar yang seperti biasa penuh dengan celaan.

Chapter 4 dan 5, gue cukup membaca novel ini seperti layaknya novel dengan unsur percintaan yang biasanya banyak di toko buku. Dan di part inilah gue mulai merasa bosan dengan paragraf-paragraf terakhir penutup cerita di Marmut Merah Jambu.

Chapter 6-7-8 I do some laughing and hard thinking dan penuh kebosanan di part 7-8. mungkin chapter 7-8 buat gue cukup membosankan karena gue pernah baca ini di blognya, sesuatu yang menurut gue cukup..mengecewakan. *abis ini gue ditemukan dengan jidat bolong

Chapter 9 dan 10 adalah chapter yang berbeda secara tema , isi dan cara penulisan. But, menurut gue dua chapter ini adalah chapter yang paling the best di novel ini. Dua chapter yang penuh 'feel' untuk tiap temanya.

Chapter 11-12 gue idem sama chapter 4-5

dan chapter terakhir i'll go back to my opinion for 1st chapter.

Over-all gue punya beberapa pandangan mengenai pembaca buku ini when I see from the readers itself.
Pertama : orang yang emang udah ngefans gila sama raditya dika, sampe satu buku ini bakalan dibilang “bagus banget bang! Sukses! Aaaa gue mau minta tanda tangan lo dong! Mau foto bareng! Mau minta muka lo dong! *emang ada ya?”

kedua : Orang-orang yang : “ah kok serius banget sih” atau “ ah kurang lucu nih” atau “ah kok gak lucu sih, boring bacanya” orang-orang tipe ini adalah orang penggemar komedi dan pengen mati ketawa, makanya mereka selalu menunggu humor-humor yang memang mereka suka, dan kebetulan buku raditya dika sebelumnya dominan humornya.

Dan gue lagi-lagi bukan keduanya. Overall menurut gue, buku ini cukup bagus di mata gue, *walaupun ada beberapa hal yang bisa dihujat * gue suka beberapa pandangan-opini-dan curhatan di buku ini, walaupun itu gak lucu dan cenderung serius. Gue suka sketsanya dio disini *ganyambung dan gue harus jujur buku ke lima ini adalah buku yang gue cukup suka tapi bukan berarti paling suka. Biasanya gue membaca buku dari si penulis ini *apa susahnya si nulis namanya lan? Haha * gue merasa oke atau busuk-busuknya flat, dan disini gue merasakan ada beberapa yang merasa flat, oke sampai drop. Gue sedikit mengharap sih, dengan membaca tulisan raditya dika dengan tag lagi bener, dia bakalan membuat buku ini at least ada satu tulisan yang bener-bener terbaca lagi bener. In fact : no, agak kecewa sih walau cukup terbayar dengan beberapa cerita yang cukup seriusnya. Kalo bisa dibilang puas dengan buku ini, ya, gue puas dengan segala kematurity-an yang ada di buku ini, the way he serves his readers with all comedy and serious way. But melihat karyanya dia, gue merasa ini bukan sesuatu yang paling maksimal sekali yang pernah dia bikin. Gue yakin raditya dika bisa bikin suatu tulisan yang jauh lebih 'mapan' dari marmut merah jambu. I do believe.

Rate : 3/5.


hati-hati setelah membaca. Efek :